Wednesday, August 19, 2026

Ekstrak Daun Wedelia trilobata Berpotensi Jadi Bioherbisida untuk Mengendalikan Gulma pada Kedelai

Gulma merupakan salah satu persoalan penting dalam budidaya kedelai. Keberadaan gulma di lahan dapat menjadi perhatian dalam pengelolaan tanaman karena gulma tumbuh pada lingkungan yang sama dengan tanaman budidaya. Karena itu, pengendalian gulma menjadi salah satu bagian penting dalam upaya mendapatkan pertumbuhan kedelai yang baik.

Selama ini, herbisida kimia menjadi salah satu pilihan dalam pengendalian gulma. Namun, penelitian mengenai bahan yang berpotensi digunakan sebagai bioherbisida terus dilakukan. Salah satunya adalah penelitian yang dimuat dalam Jurnal Agronomi Indonesia mengenai pemanfaatan ekstrak daun Wedelia trilobata L. untuk mengendalikan gulma dominan pada tanaman kedelai.

Wedelia trilobata dan Potensinya sebagai Bioherbisida

Wedelia trilobata merupakan tanaman yang daunnya menjadi bahan penelitian sebagai sumber bioherbisida. Dalam penelitian sebelumnya yang menjadi dasar penelitian ini, ekstrak daun Wedelia dengan konsentrasi 40% telah dilaporkan efektif menghambat pertumbuhan Cyperus rotundus, salah satu gulma dominan pada pertanaman kedelai.

Meski demikian, masih terdapat pertanyaan mengenai satu hal yang tidak kalah penting, yaitu kapan waktu yang paling tepat untuk mengaplikasikan ekstrak tersebut?

Penelitian tidak hanya melihat kemampuan ekstrak dalam menghambat gulma, tetapi juga membandingkan beberapa waktu aplikasi. Dengan demikian, penelitian ini memberikan gambaran mengenai hubungan antara waktu pemberian ekstrak daun Wedelia dengan kemampuannya dalam mengendalikan gulma pada pertanaman kedelai. 

Dua Jenis Gulma Menjadi Fokus Penelitian

Penelitian tersebut berfokus pada dua jenis gulma, yaitu Tridax procumbens L. dan Cyperus rotundus L.

Tridax procumbens merupakan gulma berdaun lebar, sedangkan Cyperus rotundus dikenal sebagai gulma teki. Keduanya digunakan dalam penelitian untuk melihat kemampuan ekstrak daun Wedelia trilobata dalam menghambat pertumbuhan gulma yang berbeda.

Tanaman kedelai juga menjadi bagian dari objek penelitian. Hal ini penting karena bahan yang digunakan sebagai bioherbisida tidak hanya perlu dilihat pengaruhnya terhadap gulma, tetapi juga dalam konteks penggunaannya pada pertanaman kedelai.

Tuesday, June 23, 2026

Mengapa Tanaman Penutup Tanah Penting di Kebun Kelapa Sawit? Temuan Baru tentang Fotosintesis dan Penyimpanan Karbon

perkebunan kelapa sawit. Manfaat naungan untuk tanaman kelapa sawit

Kelapa Sawit Tidak Bekerja Sendirian dalam Menyerap Karbon


Ketika membahas perkebunan kelapa sawit, perhatian biasanya tertuju pada pohon sawit sebagai penghasil tandan buah segar dan minyak sawit. Namun, di bawah tajuk pohon sawit yang rimbun terdapat berbagai jenis vegetasi yang selama ini sering dianggap sekadar gulma. Penelitian terbaru dari IPB University menunjukkan bahwa tanaman bawah atau understory vegetation ternyata memiliki kontribusi penting dalam proses penyerapan karbon di ekosistem perkebunan kelapa sawit.

Fotosintesis merupakan proses utama yang memungkinkan tanaman menyerap karbon dioksida (CO₂) dari atmosfer dan mengubahnya menjadi bahan organik untuk pertumbuhan. Dalam perkebunan kelapa sawit, kemampuan menyerap karbon tidak hanya ditentukan oleh pohon sawit, tetapi juga oleh vegetasi yang tumbuh di bawah naungannya.

Penelitian pada Kelapa Sawit dan Tanaman Bawah Naungan


Penelitian dilakukan di Teaching Farm Cikabayan, Bogor, menggunakan tanaman kelapa sawit berumur 12 tahun yang tumbuh di tanah mineral. Selain kelapa sawit, peneliti juga mengamati dua jenis tanaman penutup tanah yang umum ditemukan di perkebunan sawit, yaitu Asystasia gangetica dan Nephrolepis biserrata.

Para peneliti mengukur berbagai parameter fisiologi tanaman, termasuk laju asimilasi karbon, konduktansi stomata, laju transpirasi, dan konsentrasi karbon dioksida di dalam jaringan daun. Pengamatan dilakukan pada berbagai waktu dalam sehari untuk mengetahui bagaimana respons fotosintesis berubah mengikuti kondisi lingkungan.

Faktor Mikroklimat Sangat Menentukan


Monday, May 18, 2026

Perubahan Iklim Mengancam Produksi Bawang Merah? Ini Temuan Peneliti IPB tentang Lahan Ideal di Sleman

Bawang Merah dan Tantangan Perubahan Iklim

Bawang merah merupakan salah satu komoditas hortikultura penting di Indonesia. Selain menjadi kebutuhan pokok rumah tangga, bawang merah juga memiliki nilai ekonomi tinggi bagi petani. Namun dalam beberapa tahun terakhir, produktivitas bawang merah semakin menghadapi tantangan akibat perubahan iklim yang tidak menentu.

Curah hujan ekstrem, perubahan suhu, hingga kondisi tanah yang kurang mendukung dapat memengaruhi pertumbuhan tanaman secara signifikan. Situasi ini membuat petani sering mengalami penurunan hasil panen, bahkan gagal panen pada musim tertentu.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal agronomi IPB mencoba menjawab persoalan tersebut melalui kajian mengenai distribusi budidaya bawang merah berdasarkan kondisi hidroklimat dan sifat fisik tanah di Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Penelitian ini menjadi penting karena wilayah Sleman dikenal sebagai salah satu daerah pertanian hortikultura yang cukup aktif di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Mengapa Faktor Iklim Sangat Berpengaruh pada Bawang Merah?

Curah Hujan Menjadi Faktor Penting

Dalam penelitian tersebut dijelaskan bahwa kondisi hidroklimat memiliki hubungan erat dengan keberhasilan budidaya bawang merah. Salah satu faktor utama adalah curah hujan.

Tanaman bawang merah membutuhkan kondisi air yang cukup, tetapi tidak berlebihan. Curah hujan tinggi dalam waktu lama dapat menyebabkan kelembapan meningkat dan memicu serangan penyakit pada tanaman. Sebaliknya, kekurangan air juga dapat menghambat pertumbuhan umbi.

Perubahan pola hujan akibat iklim ekstrem membuat petani semakin sulit menentukan waktu tanam yang ideal. Oleh karena itu, pemetaan wilayah berdasarkan kondisi iklim menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko produksi.

Suhu dan Kelembapan Memengaruhi Pertumbuhan Umbi

Selain hujan, suhu udara dan kelembapan lingkungan juga memengaruhi kualitas hasil panen. Suhu yang terlalu tinggi dapat mempercepat penguapan air dari tanah dan tanaman, sementara kelembapan tinggi dapat meningkatkan perkembangan jamur dan penyakit tanaman tidak terkecuali pada bawang merah.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa wilayah dengan kondisi hidroklimat tertentu memiliki tingkat kesesuaian yang berbeda terhadap budidaya bawang merah. Artinya, tidak semua wilayah memiliki potensi yang sama untuk menghasilkan panen optimal.

Kondisi Tanah Menentukan Produktivitas

Monday, May 11, 2026

Rahasia Benih Padi Gogo Berkualitas: Waktu Panen dan Dosis Fosfat Ternyata Sangat Menentukan

Mengapa Kualitas Benih Padi Gogo Sangat Penting?

Permintaan beras di Indonesia terus meningkat setiap tahun. Di sisi lain, lahan sawah semakin berkurang akibat alih fungsi lahan. Dalam kondisi seperti ini, padi gogo menjadi salah satu alternatif penting untuk menjaga ketersediaan pangan nasional. Namun, keberhasilan budidaya padi gogo tidak hanya ditentukan oleh teknik tanam atau pemupukan, melainkan juga oleh kualitas benih yang digunakan.

Benih berkualitas tinggi memiliki kemampuan tumbuh yang lebih baik, lebih tahan selama penyimpanan, dan mampu menghasilkan tanaman yang lebih seragam. Karena itu, penentuan waktu panen benih menjadi salah satu faktor penting dalam produksi padi gogo.

Sebuah penelitian dari IPB University meneliti bagaimana tingkat kemasakan benih dan dosis pupuk fosfat memengaruhi mutu benih padi gogo varietas IPB 10G Tanimar. Hasil penelitian tersebut memberikan gambaran menarik mengenai kapan waktu panen terbaik dan berapa dosis fosfat yang paling optimal untuk menghasilkan benih unggul.

Penelitian IPB tentang Benih Padi Gogo

Penelitian ini dilakukan menggunakan beberapa variasi dosis pupuk fosfat SP-36, yaitu 50 kg per hektare, 100 kg per hektare, dan 150 kg per hektare. Selain itu, benih dipanen pada beberapa tingkat kemasakan berbeda, mulai dari 112 hingga 128 hari setelah tanam.

Tujuan utama penelitian tersebut adalah mengetahui:
  1. Tingkat kemasakan fisiologis benih padi gogo
  2. Lama periode after-ripening atau masa dormansi benih
  3. Daya simpan benih selama penyimpanan

Dosis pupuk fosfat terbaik untuk menghasilkan benih berkualitas tinggi

Peneliti menemukan bahwa dosis pupuk fosfat ternyata tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap pertumbuhan vegetatif maupun generatif tanaman. Meski demikian, terdapat perbedaan pada kualitas benih yang dihasilkan.

Dosis Fosfat 100 Kg per Hektare Memberikan Hasil Terbaik

Salah satu temuan penting dari penelitian ini adalah penggunaan pupuk fosfat sebesar 100 kg SP-36 per hektare menghasilkan kualitas benih terbaik berdasarkan indeks vigor awal.

Indeks vigor merupakan parameter penting untuk menilai kemampuan benih tumbuh cepat dan seragam. Benih dengan vigor tinggi biasanya lebih tahan terhadap kondisi lingkungan yang kurang ideal serta memiliki performa penyimpanan yang lebih baik.

Menariknya, peningkatan dosis fosfat hingga 150 kg per hektare tidak memberikan peningkatan mutu benih yang signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan pupuk secara berlebihan belum tentu menghasilkan kualitas benih yang lebih baik.

Bagi petani maupun produsen benih, hasil ini memberikan pesan penting bahwa efisiensi pemupukan perlu diperhatikan. Penggunaan dosis yang tepat bukan hanya lebih hemat biaya, tetapi juga mampu menghasilkan benih berkualitas optimal.

Waktu Panen Ideal Ternyata Ada di 124 Hari Setelah Tanam

Selain dosis pupuk, penelitian ini juga menemukan bahwa waktu panen sangat menentukan kualitas benih padi gogo.

Tuesday, April 14, 2026

Temua Riset Terbaru : Pupuk Mikro Seng dan Boron Terbukti Meningkatkan Produktivitas Jagung Manis Hingga 78%


Peran Unsur Mikro dalam Meningkatkan Produktivitas Jagung Manis

Jagung manis (Zea mays L. var. saccharata) merupakan komoditas hortikultura bernilai ekonomi tinggi yang banyak dibudidayakan karena rasa manis serta kandungan gizinya. Produktivitas tanaman ini dipengaruhi oleh berbagai faktor agronomi, salah satunya adalah pengelolaan nutrisi tanaman. Selain unsur hara makro seperti nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K), tanaman juga memerlukan unsur mikro untuk mendukung pertumbuhan optimal.

Dalam praktik budidaya, perhatian terhadap unsur mikro sering kali masih terbatas. Padahal, unsur seperti seng (Zn) dan boron (B) memiliki peran penting dalam proses fisiologis tanaman jagung, termasuk pembentukan enzim, sintesis protein, perkembangan sel, serta transportasi nutrisi. Kekurangan kedua unsur ini dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat, penyerbukan kurang optimal, hingga penurunan hasil panen.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, sebuah penelitian dari peneliti agronomi melakukan evaluasi efektivitas pupuk mikro yang mengandung seng dan boron pada budidaya jagung manis di kondisi agroekosistem tropis.

Metode Penelitian: Menguji Kombinasi Pupuk Mikro dan NPK

Penelitian dilakukan pada tahun 2025 di Kebun Percobaan Sindangbarang, Fakultas Pertanian IPB University, Bogor. Percobaan lapangan menggunakan rancangan percobaan randomized complete block design dengan empat perlakuan pemupukan.

Empat perlakuan tersebut meliputi:
Tanpa pemupukan sebagai kontrol
Pemupukan standar menggunakan NPK
Pupuk standar NPK ditambah satu dosis pupuk mikro
¾ dosis pupuk NPK ditambah satu dosis pupuk mikro

Pupuk mikro yang digunakan mengandung sekitar 5,46% seng (Zn) dan 3,59% boron (B). Penelitian ini juga dilakukan dengan enam ulangan untuk memastikan hasil yang lebih akurat secara statistik.