Wednesday, February 18, 2026

Peran Jamur Mikoriza Arbuskular dalam Meningkatkan Pertumbuhan Porang


Pendahuluan: Potensi Porang untuk Pertanian Indonesia

Porang (Amorphophallus muelleri) merupakan tanaman umbi-umbian bernilai tinggi yang mulai populer sebagai komoditas ekspor dan bahan baku industri, terutama untuk pembuatan glucomannan. Porang juga tumbuh baik di dataran rendah hingga sedang dengan pengelolaan yang tepat. Namun, pertumbuhan dan produktivitas porang masih dipengaruhi oleh kondisi ketersediaan hara dan kesehatan akar tanaman.

Salah satu solusi untuk meningkatkan pertumbuhan porang yang berkelanjutan adalah dengan memanfaatkan Arbuscular Mycorrhizal Fungi (AMF) — jamur tanah yang membentuk simbiosis mutualisme dengan akar tanaman. AMF membantu tanaman menyerap hara, terutama fosfor, serta meningkatkan toleransi terhadap stres lingkungan.

Penelitian Response of Porang to the Application of Arbuscular Mycorrhizal Fungi ini mengevaluasi bagaimana pemberian AMF memengaruhi pertumbuhan porang, termasuk biomassa dan kesehatan sistem akar, sebagai dasar rekomendasi praktik budidaya yang lebih efektif.
 
Apa Itu Arbuscular Mycorrhizal Fungi (AMF)?

Arbuscular Mycorrhizal Fungi (AMF) adalah kelompok jamur tanah yang membentuk hubungan simbiotik dengan akar tanaman. Jamur ini memperluas jaringan hifa (filamen) ke dalam tanah sehingga meningkatkan kemampuan penyerapan air serta unsur hara, terutama fosfor (P) yang penting bagi pertumbuhan tanaman umbi seperti porang.
Manfaat AMF untuk Tanaman Porang

Saturday, February 14, 2026

Dampak Perubahan Tata Guna Lahan terhadap Fungsi Hidrologis DAS Ciujung

Pendahuluan: Mengapa Pengelolaan DAS Penting?
Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan sistem alami yang mengatur aliran air dari hulu ke hilir dan menyediakan air bagi berbagai kebutuhan seperti pertanian, domestik, industri, dan ekosistem. Penelitian ilmiah di Land Use Change, Hydrological Responses and Water Balance of Upstream Ciujung Watershed mengkaji bagaimana perubahan penggunaan lahan di bagian hulu DAS Ciujung (Provinsi Banten dan sebagian Bogor) berpengaruh terhadap fungsi hidrologis dan keseimbangan air di kawasan tersebut.
 
Tren Perubahan Lahan (2016–2021)
Analisis citra satelit menunjukkan bahwa antara tahun 2016 dan 2021 terjadi konversi lahan hutan menjadi lahan pertanian dan areal bukan hutan. Luas hutan primer, sekunder, dan hutan produksi berkurang cukup signifikan, sedangkan lahan pertanian kering serta pemukiman meningkat. Perubahan ini menunjukkan adanya desakan kebutuhan lahan untuk kegiatan pertanian dan pemukiman penduduk.
 
Dampak Deforestasi
Pengurangan tutupan hutan menyebabkan berkurangnya kemampuan lahan dalam menyerap air hujan dan memperlambat aliran permukaan. Hal ini berdampak langsung pada fungsi DAS sebagai buffer terhadap banjir dan kekeringan, terutama pada musim hujan dan kemarau.
 
Respon Hidrologis terhadap Perubahan Tata Guna Lahan
Koefisien Aliran dan Respon Aliran

Penelitian menggunakan parameter Flow Regime Coefficient (FRC) dan Annual Flow Coefficient (AFC) untuk mengevaluasi respon hidrologi sungai. Pada periode 2012–2016, FRC termasuk kategori rendah, menandakan aliran sungai lebih seimbang antara musim hujan dan kemarau. Namun, pada periode 2017–2021, FRC meningkat ke tingkat menengah, yang berarti fluktuasi aliran lebih tajam akibat penurunan tutupan hutan. AFC juga menurun, menunjukkan perubahan cara air terdistribusi di dalam DAS dan berkurangnya kontribusi aliran dasar akibat perubahan lahan.
 

Friday, February 6, 2026

Kearifan Lokal Jawa sebagai Kunci Ketahanan Petani Hortikultura di Magelang

Pendahuluan: Tantangan Petani Hortikultura di Magelang
Wilayah Sawangan, Ngablak, dan Srumbung di Kabupaten Magelang dikenal sebagai sentra hortikultura dataran tinggi. Sayuran seperti kubis, wortel, cabai, dan sawi menjadi komoditas utama yang menopang ekonomi rumah tangga petani. Namun, di balik produktivitas yang tinggi, petani hortikultura menghadapi tantangan serius berupa fluktuasi harga pasar, ketergantungan pada tengkulak, serta risiko gagal panen.

Kondisi ini menuntut petani tidak hanya kuat secara teknis, tetapi juga tangguh secara sosial dan mental. Di sinilah konsep ketahanan komunitas petani menjadi penting untuk dipahami.

Apa Itu Ketahanan Komunitas Petani?
Ketahanan komunitas (community resilience) merujuk pada kemampuan komunitas petani untuk bertahan, beradaptasi, dan bangkit dari tekanan ekonomi, sosial, maupun lingkungan. Dalam konteks pertanian hortikultura di Magelang, ketahanan ini tidak berdiri sendiri, melainkan dibentuk oleh jejaring sosial, budaya lokal, dan strategi adaptif petani.

Penelitian menunjukkan bahwa ketahanan petani bukan hanya ditentukan oleh harga atau hasil panen, tetapi juga oleh hubungan sosial dan nilai budaya yang hidup di masyarakat.

Peran Kearifan Lokal Jawa dalam Ketahanan Petani

Nilai Nrimo, Gemi, dan Setiti
Budaya Jawa memiliki nilai-nilai lokal seperti nrimo (menerima keadaan dengan bijak), gemi (hidup hemat), dan setiti (berhati-hati dalam mengambil keputusan). Nilai ini membentuk sikap mental petani untuk tetap tenang saat harga jatuh dan tidak gegabah dalam mengelola modal maupun sumber daya.

Monday, February 2, 2026

Pupuk ZA untuk Kedelai: Cara Meningkatkan Pembentukan Polong dan Hasil Panen

pemupukan tanaman kedelai
Kedelai (Glycine max) merupakan komoditas strategis dalam pertanian Indonesia. Selain menjadi sumber protein nabati utama, kedelai juga berperan penting dalam industri pangan dan pakan. Namun, salah satu tantangan utama dalam budidaya kedelai adalah rendahnya persentase bunga yang berkembang menjadi polong, yang secara langsung berdampak pada hasil panen.

Dalam praktik budidaya tanaman kedelai, banyak tanaman kedelai terlihat subur dan berbunga lebat, tetapi saat panen jumlah polongnya tidak sebanding. Masalah ini sering kali berkaitan dengan ketersediaan unsur hara, terutama nitrogen (N) dan sulfur (S), yang berperan penting dalam fase generatif tanaman.

Mengapa Nitrogen dan Sulfur Penting bagi Kedelai?

Nitrogen dikenal sebagai unsur utama pembentuk protein dan klorofil, sementara sulfur berperan dalam pembentukan asam amino esensial, enzim, serta mendukung efisiensi fiksasi nitrogen pada tanaman legum seperti kedelai. Kekurangan salah satu unsur ini dapat menyebabkan gugurnya bunga dan rendahnya pembentukan polong.

Salah satu sumber pupuk yang mengandung nitrogen dan sulfur sekaligus adalah pupuk sulfat amonium atau pupuk ZA. Pupuk ini relatif mudah diserap tanaman dan sudah lama digunakan dalam praktik pertanian.

Apa Kata Penelitian?

Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia mengkaji pengaruh pemberian pupuk sulfat amonium terhadap perkembangan bunga dan polong kedelai. Penelitian ini menguji empat dosis pupuk ZA, yaitu 0, 100, 200, dan 300 kg per hektare.

Beberapa parameter penting yang diamati meliputi:
  1. Jumlah bunga yang terbentuk
  2. Jumlah polong yang dihasilkan
  3. Persentase bunga menjadi polong
  4. Kandungan sulfur dalam daun

Thursday, January 29, 2026

Respons Bibit Kelapa Sawit di Pre-Nursery terhadap Dosis Pupuk Urea dan SP-36

Pendahuluan
Kelapa sawit merupakan komoditas unggulan perkebunan Indonesia dengan luas areal yang terus meningkat setiap tahun. Seiring dengan ekspansi kebun dan program peremajaan (replanting), kebutuhan akan bibit kelapa sawit yang sehat dan berkualitas menjadi semakin penting. Fase pembibitan awal atau pre-nursery memegang peran strategis karena menentukan daya tumbuh tanaman pada tahap selanjutnya.

Salah satu aspek penting dalam pengelolaan bibit kelapa sawit adalah pemupukan. Unsur nitrogen (N) dan fosfor (P) dikenal sebagai nutrisi esensial yang berperan dalam pertumbuhan vegetatif tanaman. Pupuk urea merupakan sumber nitrogen utama yang berfungsi dalam pembentukan klorofil dan protein, sedangkan pupuk SP-36 menyuplai fosfor yang berperan dalam transfer energi dan pembelahan sel. Namun, efektivitas pemberian kedua pupuk tersebut pada fase awal pertumbuhan bibit masih menjadi perdebatan di lapangan.

Metodologi Singkat
Penelitian ini dilakukan di Kebun Pendidikan dan Penelitian Institut Pertanian STIPER Yogyakarta selama periode Juli hingga September 2024. Percobaan disusun menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan dua faktor, yaitu dosis pupuk urea (1–2,5 g per polybag) dan dosis pupuk SP-36 (0–2 g per polybag). Seluruh perlakuan diulang empat kali.

Parameter yang diamati mencakup tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, panjang akar, bobot basah dan kering akar serta tajuk, luas daun, dan kandungan klorofil. Analisis data dilakukan menggunakan ANOVA dan uji lanjutan DMRT pada taraf kepercayaan 5%.

Hasil dan Pembahasan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi dosis pupuk urea dan SP-36, baik secara tunggal maupun kombinasi, tidak memberikan pengaruh nyata terhadap seluruh parameter pertumbuhan bibit kelapa sawit di fase pre-nursery. Dengan kata lain, peningkatan dosis pupuk nitrogen dan fosfor tidak diikuti oleh peningkatan pertumbuhan bibit secara signifikan.