Thursday, January 29, 2026

Respons Bibit Kelapa Sawit di Pre-Nursery terhadap Dosis Pupuk Urea dan SP-36

Pendahuluan
Kelapa sawit merupakan komoditas unggulan perkebunan Indonesia dengan luas areal yang terus meningkat setiap tahun. Seiring dengan ekspansi kebun dan program peremajaan (replanting), kebutuhan akan bibit kelapa sawit yang sehat dan berkualitas menjadi semakin penting. Fase pembibitan awal atau pre-nursery memegang peran strategis karena menentukan daya tumbuh tanaman pada tahap selanjutnya.

Salah satu aspek penting dalam pengelolaan bibit kelapa sawit adalah pemupukan. Unsur nitrogen (N) dan fosfor (P) dikenal sebagai nutrisi esensial yang berperan dalam pertumbuhan vegetatif tanaman. Pupuk urea merupakan sumber nitrogen utama yang berfungsi dalam pembentukan klorofil dan protein, sedangkan pupuk SP-36 menyuplai fosfor yang berperan dalam transfer energi dan pembelahan sel. Namun, efektivitas pemberian kedua pupuk tersebut pada fase awal pertumbuhan bibit masih menjadi perdebatan di lapangan.

Metodologi Singkat
Penelitian ini dilakukan di Kebun Pendidikan dan Penelitian Institut Pertanian STIPER Yogyakarta selama periode Juli hingga September 2024. Percobaan disusun menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan dua faktor, yaitu dosis pupuk urea (1–2,5 g per polybag) dan dosis pupuk SP-36 (0–2 g per polybag). Seluruh perlakuan diulang empat kali.

Parameter yang diamati mencakup tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, panjang akar, bobot basah dan kering akar serta tajuk, luas daun, dan kandungan klorofil. Analisis data dilakukan menggunakan ANOVA dan uji lanjutan DMRT pada taraf kepercayaan 5%.

Hasil dan Pembahasan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi dosis pupuk urea dan SP-36, baik secara tunggal maupun kombinasi, tidak memberikan pengaruh nyata terhadap seluruh parameter pertumbuhan bibit kelapa sawit di fase pre-nursery. Dengan kata lain, peningkatan dosis pupuk nitrogen dan fosfor tidak diikuti oleh peningkatan pertumbuhan bibit secara signifikan.

Tuesday, January 27, 2026

Remote Sensing dalam Pertanian Presisi: Prinsip Dasar dan Langkah Praktis

Dalam era pertanian modern, teknologi remote sensing atau penginderaan jauh menjadi salah satu inovasi terpenting dalam precision farming (pertanian presisi). Lalu, apa itu remote sensing dalam Pertanian?

Remote sensing adalah penggunaan sensor atau perangkat elektronik yang mampu menangkap informasi tentang kondisi lahan dari jarak jauh, biasanya melalui udara atau satelit. Sensor ini mendeteksi pantulan cahaya dari permukaan tanah dan tanaman untuk menganalisis kesehatan tanaman, kadar air tanah, komposisi tanah, hingga adanya hama atau penyakit secara real-time. Teknologi ini membantu petani membuat keputusan berbasis data, alih-alih berdasarkan pengalaman semata.
 
Mengapa Teknologi Ini Penting untuk Precision Farming?

Pertanian presisi adalah pendekatan modern yang bertujuan mengoptimalkan hasil panen sekaligus meminimalkan penggunaan sumber daya seperti air, pupuk, dan pestisida. Dalam konteks ini, remote sensing bekerja sebagai tulang punggung teknologi karena mampu:
  1. Mendeteksi Variabilitas Lahan: Remote sensing menunjukkan kondisi mikro di setiap bagian lahan sehingga petani tahu area mana yang membutuhkan perhatian lebih atau kurang.
  2. Menentukan Kesehatan Tanaman: Melalui citra multispektral, sensor mampu membedakan antara tanaman sehat dan stres akibat kekeringan, hama, atau penyakit.
  3. Meningkatkan Efisiensi Input: Dengan data akurat, petani dapat menyesuaikan penggunaan air atau pupuk hanya pada zona tertentu yang membutuhkannya, bukan seluruh lahan.
  4. Mengurangi Biaya Operasional: Dengan memprediksi masalah sebelum menjadi besar, biaya pengecekan manual dan perbaikan kerusakan lahan pun berkurang drastis.
Prinsip Dasar Teknologi Remote Sensing

Monday, January 26, 2026

5 Metode Irigasi Modern yang Efektif untuk Pertanian Masa Kini

5 metode Irigasi Modern
Irigasi adalah salah satu aspek paling penting dalam dunia pertanian, karena ketersediaan air menentukan keberhasilan pertumbuhan tanaman dan produktivitas lahan. Dalam era pertanian modern, petani tidak lagi mengandalkan sistem tradisional seperti pengairan manual atau sekadar menggantungkan pada hujan. Kini, telah berkembang berbagai metode irigasi efisien yang mampu meningkatkan hasil panen sekaligus menghemat penggunaan air.

5 Metode irigasi tersebut adalah:

1. Irigasi Tetes (Drip Irrigation)
Metode ini menyalurkan air secara langsung ke daerah akar tanaman melalui pipa kecil sehingga meminimalkan pemborosan. Irigasi tetes membantu menjaga kelembapan tanah yang stabil dan sangat cocok untuk tanaman hortikultura seperti cabai, tomat, dan sayuran.

2. Irigasi Sprinkler
Irigasi ini menyebarkan air seperti hujan buatan melalui semprotan putar. Sistem sprinkler efektif untuk lahan luas dan dapat digunakan untuk berbagai jenis tanaman. Penjadwalan dan tekanan air yang tepat sangat menentukan efisiensi metode ini.

3. Sensor Kelembapan Tanah
Teknologi sensor memonitor kadar air di dalam tanah secara real-time dan otomatis menghidupkan sistem irigasi ketika tanah terlalu kering. Ini sangat membantu dalam penghematan air.

4. Irigasi Berbasis Cuaca
Sistem ini menyesuaikan jadwal penyiraman berdasarkan data cuaca terbaru sehingga menghindari pemborosan air saat hujan atau kelembapan tinggi.

5. Irigasi Bawah Permukaan (Subsurface Irrigation)
Air dialirkan di bawah permukaan tanah sehingga mencapai langsung zona akar tanaman. Ini meminimalkan penguapan dan kehilangan air.

Friday, January 23, 2026

Vertical Farming: Teknologi Pertanian Modern yang Menjawab Tantangan Masa Depan

vertical farming

Perkembangan teknologi telah membawa perubahan besar di hampir semua sektor, termasuk pertanian. Salah satu inovasi yang semakin mendapat perhatian global adalah vertical farming atau pertanian vertikal. Melalui video “CAN-Agri – Vertical Farming. Amazing Modern Farming Technology”, ditampilkan bagaimana teknologi ini diterapkan secara nyata sebagai solusi atas keterbatasan lahan, perubahan iklim, dan kebutuhan pangan yang terus meningkat.

Vertical farming bukan sekadar tren, melainkan sebuah pendekatan baru dalam sistem produksi pangan yang mengandalkan efisiensi ruang, kontrol lingkungan, dan teknologi otomatisasi.
Memahami Konsep Vertical Farming

Vertical farming adalah metode budidaya tanaman dengan susunan bertingkat ke atas di dalam bangunan tertutup. Berbeda dengan pertanian konvensional yang sangat bergantung pada kondisi alam, sistem ini memungkinkan proses tanam berlangsung secara terkendali dan konsisten sepanjang tahun.

Tanaman tidak ditanam di tanah, melainkan menggunakan sistem hidroponik atau aeroponik, di mana nutrisi diberikan langsung ke akar tanaman dalam takaran yang presisi. Lingkungan tumbuh—mulai dari cahaya, suhu, kelembapan, hingga sirkulasi udara—diatur menggunakan teknologi digital.

Tuesday, September 9, 2025

Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) pada Tanaman Kubis

Tanaman kubis (Brassica oleracea var. Capitata L.) merupakan tanaman yang berasal dari daerah sub tropis dan kini mulai banyak dibudidayakan dan dikembangkan di daerah tropis termasuk Indonesia. Di Indonesia, pada awalnya tanaman kubis hanya dibudidayakan di dataran tinggi yang memiliki iklim mendekati daerah asalnya di wilayah sub tropis. Seiring perkembangan teknologi dan pengembangan varietas, kubis mulai banyak dibudidayakan di dataran rendah.
organisme pengganggu tanaman kubis
sumber gambar:
https://asset.kompas.com/crops/UzeRQrH6pn9sB8uEfXlDPn0gyEo=/0x107:1280x960/1200x800/data/photo/2021/09/27/615150cfa4bd3.jpg

Dengan kandungan utama vitamin A dan C serta karakteristik yang cocok sebagai bahan pangan, kubis menjadi salah satu komoditas sayuran penting yang memberikan nilai ekonomi bagi petani. Manfaat ekonomi merupakan salah satu alasan kubis di Indonesia tetap dibudidayakan walaupun produktivitasnya masih lebih rendah dibandingkan di negara-negara sub tropis.

Keberadaan dan serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) adalah salah satu kendala yang harus dihadapi dalam praktik budidaya dan pengembangan komoditas kubis. Pemusnahan organisme pengganggu tanaman (OPT) dengan hanya menggunaka bahan kimia adalah pradigma lama yang sudah semestinya ditinggalkan karena berdampak buruk pada ekosistem. Pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) adalah pradigma baru yang harus dipraktikkan guna optimasi hasil tanpa merusak lingkungan.